Sebuah Kuburan Keruwetan

[ Jum'at, 10 Oktober 2008 ]
Oleh: Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Group

Di kuburan besar itu tidak ada penjelasan siapa yang dimakamkan ramai-ramai
di situ. Di tiap batu nisannya hanya tertulis kata-kata begini: penyebab
kematiannya adalah keruwetan. Oh, tidak sulit menebak kuburan siapa gerangan
itu: Lehman Brothers dan kawan-kawan! Dan, keruwetan yang menyebabkan
tewasnya berbagai perusahaan terbesar di dunia itu adalah sebuah urusan
yang, menurut Warren Buffett, bernama “racun derivatif”.Racun itu terbuat dari ramuan “kecerdasan, gairah, dan kerakusan”.

Unsur-unsur dalam ramuan itu, misalnya,*commercia l papers, mortgage-backed
securities, short selling, hedging, over the counter, credit default swaps,
equity swaps, interest swaps, margin trading, futures, forward, option,* dan
banyak lagi. Kalau *toh *bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti
dari tiap-tiap istilah keuangan itu tetap saja ruwet. Seruwet memahami
definisi dan peraturannya.
Gampangnya: semua itu adalah anak-cucu dari sistem perbankan yang merasa
tidak cukup lagi kalau hanya mendapat keuntungan dari menerima tabungan dan
memberi pinjaman. Harus diciptakan produk-produk perbankan yang baru. Itulah
derivatif*.* Yang menciptakannya harus cerdas, bergairah, dan rakus. Yang
menjalankannya harus bergairah, rakus, dan cerdas. Yang memilikinya tidak
harus cerdas, tapi tetap harus rakus dan bergairah.

Saya punya teman pengusaha besar yang asalnya sangat miskin. Dia lima
bersaudara. Saudara tertua kerja mati-matian membanting tulang secara fisik.
Sampai harus bertani dan kemudian berkebun sendiri. Lama-lama si sulung itu
menjadi pengusaha besar hasil bumi. Dia tidak ingin adiknya tidak sekolah
tinggi seperti dirinya. Karena itu, adiknya yang terkecil disekolahkan ke
Amerika. Sekolah keuangan. Maksudnya, agar perusahaan keluarga yang dikelola
secara tradisional itu kelak bisa jadi perusahaan modern.

Si bungsu sekolah dengan tekun dan jadi ahli keuangan. Ketika pulang, dia
merasa perusahaan yang dirintis kakaknya itu harus dibuat modern. Sistem
keuangannya harus secanggih di AS, terutama struktur pendanaannya. Si sulung
merasa bodoh dan karena itu menyerahkan saja semuanya kepada si bungsu.
Terjadilah krismon. Struktur keuangannya ternyata rapuh. Perusahaan itu
mengalami kesulitan yang luar biasa. “Pak Dahlan, gara-gara adik, sekarang
saya harus kembali bertani lagi,” katanya saat krismon masih berlangsung.
Syukurlah kini dia sudah jaya kembali.

Sistem keuangan modern memang luar biasa variasinya. Apalagi mendapat
dukungan sistem komputer. Perdagangan derivatif kian lama kian membesar.
Tentu semuanya di atas kertas, atau di layar komputer. Meski namanya
jual-beli, yang berpindah tangan bukan barang atau uang, melainkan
angka-angka. Bertukarnya juga sangat kilat. Antarnegara sekalipun bisa
secepat kilat. Kalau menanam tebu memerlukan 16 bulan, menanam derivatif
hanya dalam hitungan detik.

Enam tahun lalu, Warren Buffett, sudah mengingatkan secara terbuka bahaya
perdagangan derivatif ini. “Derivatif adalah senjata pemusnah masal
keuangan,” katanya. Waktu itu istilah senjata pemusnah masal lagi top-topnya
sebagai alasan Presiden Bush untuk menyerang Iraq dan menangkap Saddam
Hussein. “Saya tidak tahu kapan meledak, tapi suatu hari kelak pasti
meledak,” tambahnya.

Derivatif ternyata meledak sekarang.

Warren Buffett adalah orang terkaya di dunia saat ini, mengalahkan Bill
Gate. Dialah *chairman* Berkshire Hathaway yang memiliki bisnis ritel
terbesar di dunia: Wal-mart. Dia punya pengalaman pahit membeli perusahaan
yang rupanya sudah digelembungkan melalui berbagai perdagangan derivatif*.* Mau
dia jual lagi tidak laku. Maka dia harus membersihkan “lemak dan kolesterol”
dari perusahaan itu selama lima tahun dengan kerugian yang sangat besar.
Dari situ dia menyimpulkan bahwa* *derivatif pasti akan meledak jadi bom
keuangan. Bahkan, dalam lima tahun setelah dia ucapkan, bom itu sudah lima
kali lipat besarnya.

*Subprime* (*mortgage*) ternyata hanya satu bagian kecil dari penyebab
kekacauan keuangan sekarang ini. Volume uang yang terkait dengan derivatif
ini jauh lebih besar daripada perkiraan semula yang hanya USD 15 triliun.
(Dalam rupiah harus ditulis begini: Rp 141.000.000. 000.000.000, dengan
asumsi kurs Rp 9.400 per dolar AS). Bisa jadi transaksi derivatif ini
mencapai USD 516 triliun. Angka ini dikeluarkan oleh “ketuanya” bank-bank
sentral seluruh dunia yang disebut Bank of International Settlement (BIS)
yang berpusat di Basel, Swiss.

Begitu besar dan ruwetnya, sampai-sampai menurut Buffett, pemerintah mana
pun, termasuk USA, tidak bisa lagi mengontrol perdagangan derivatif itu.
“Bahkan, hanya untuk memonitor pun sudah tidak mampu,” katanya.

Derivatif ini sebenarnya sudah sulit dibedakan dengan perjudian. Dalam
perdagangan saham murni, meski ada unsur spekulasinya, masih bisa
dianalisis. Tapi, dalam perdagangan derivatif yang bisa menganalisis hanya
para pelaku sistem itu. Pemilik uang sulit memahaminya.

Saya punya teman baik yang juga penggemar Formula One. Sukanya keliling
dunia. Dan memotret. Dia pernah bekerja keras selama 20 tahun untuk
mengumpulkan uang sampai Rp 40 miliar. Uang itu dipercayakan kepada satu
bank di Singapura untuk diputar. Masuklah ke mesin derivatif. Dalam hitungan
detik, uang itu amblas. Di meja judi pun tidak akan secepat itu!

“Saya ini kebalikan dari Anda,” katanya menghibur diri. “Kalau Anda, sakit
hati dulu lalu mengeluarkan uang. Kalau saya, mengeluarkan uang dulu, lalu
sakit hati,” katanya.

Tidak sedikit orang atau perusahaan yang punya jalan hidup seperti itu.

Memang tidak gampang memahami rumus* *derivatif ini. Saya biasanya
menghindar saja, daripada pusing. Kelihatannya memang *ndeso*, bodoh, dan
tidak modern, tapi saya memang benar-benar sulit memahami rumusnya.

Bahkan, rumus itu ternyata memang tidak pernah ada. Kesalahan pokok sistem*
*derivatif adalah tidak adanya kepastian apakah harga saham, uang, bunga,
margin, aset, dan seterusnya itu bisa diperkirakan untuk jangka 3 atau 5
atau 10 tahun. Bahkan, tidak bisa diketahui apakah pasarnya itu memang ada.
Artinya, kalau satu saham yang dibeli itu kini harganya Rp 1 juta, lalu
diperkirakan 5 tahun lagi menjadi Rp 10 juta, maka pertanyaannya adalah:
apakah benar lima tahun kemudian jadi Rp 10 juta? Kalau *toh* “ya”, apakah
ada pembelinya?

Karena kepastian itu memang tidak ada, digunakanlah berbagai asumsi. Sekian
banyak asumsi lantas dijadikan satu menjadi “model”. Variasi dari gabungan
asumsi itu melahirkan berbagai model. Belakangan jadilah “model’ itu seperti
fakta kebenaran. Yang semula hanya “model” lantas seperti “pasar yang
sesungguhnya” .

Akibatnya, sebelum transaksi, selalu angka-angkanya dimasukkan begitu saja
ke dalam model di komputer. Komputer yang akan menganalisis. Lalu keluarlah
angka-angka akhir: berapa harga saham atau uang itu lima tahun ke depan.
Nilai itulah yang kemudian dianggap sebagai kekayaan riil saat ini. Termasuk
bisa menjualnya atau menjaminkannya untuk pinjam uang. Jaminan itu lantas
dijaminkan lagi, dijaminkan lagi, dijaminkan lagi…. Jadilah, pasar
derivatif menjadi sebesar USD 516 triliun.

Betapa besarnya angka itu bisa dilihat dari data BIS berikut ini. Nilai
saham dan *bond* (surat utang atau obligasi) di seluruh dunia hanyalah USD
100 triliun. Total nilai realestat di seluruh dunia (yang di pasar modal)
adalah USD 75 triliun. GDP Amerika adalah USD 15 triliun.

Jadi, jangan diingat-ingat tulisan ini. Pertama, meski sudah disederhanakan
penulisannya, tetap saja ruwet. Kedua, daripada takut sendiri. (*)

Update: mungkin sedikit berhubungan juga dengan ini
dan ada lanjutannya di sini

Subprime Mortgage US

Dikutip dari jawapos

Juntrungan Krisis Subprime di Amerika Serikat

Kalau Langit Masih Kurang Tinggi

Oleh: Dahlan Iskan

 

 Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya

”menceritakan’ ‘ secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS

saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit

liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:

 

Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus

berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah

perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal

caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.

 

Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau

tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka

mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus

terus naik dan labanya harus terus meningkat.

 

Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu

orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan

mereka.

 

Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau

para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih

tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.

 

Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual

saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang

kian banyak.

 

Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan

baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara

kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja

para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak,

hukum perburuhan, dan seterusnya.

 

Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa

tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa

untung, tapi kadang bisa rugi?

 

Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa

disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa?

Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar

dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari

laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para

CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden

George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?

 

Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti

tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk

terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus

dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan

baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang

lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan

cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.

 

Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk

bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat

jalan.

 

Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para

direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar

setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik.

Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi

happy karena dapat dukungan atau sumber dana.

 

Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan

kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli

kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya.

Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.

 

Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak

bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau

negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa

saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di

dunia: USD 2 triliun!

 

Sudah lebih dari 60 tahun cara ”membesarkan’ ‘ perusahaan seperti itu

dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis.

AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa

dunia.

 

Tapi, itu belum cukup.

 

Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup

lagi: harus computerized!

 

Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus

meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah

sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga

belum cukup.

 

Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi

perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus

meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan

dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus

diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga

mobilnya.

 

Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah?

 

Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih

besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana

perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa

lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan

penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan

harus semakin besar?

 

Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada

1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut ”Deregulasi Kontrol

Moneter”. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat

diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan

bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan

baru itu berlaku dua tahun kemudian.

 

Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan,

asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang

dimanfaatkan perbankan secara nyata.

 

Begini ceritanya:

 

Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam

undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan

memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti

KPR, meski tidak sama).

 

Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil

mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya

ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen

setahun.

 

Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang

terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di

Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam

menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.

 

Dengan keluarnya ”jalan baru” pada 1980 itu, terbuka peluang untuk

menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup.

Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif.

Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.

 

Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan.

Maka, ada lagi ”jalan baru” yang dibuat pemerintah enam tahun

kemudian. Yakni, tahun 1986.

 

Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu

isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga

berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya

rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam

fasilitas itu.

 

Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang

luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di

Swedia atau Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen.

Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan

gratis. Hari tua juga terjamin.

 

Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat

drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya.

Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun

langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun

berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700

miliar setahun.

 

Kata ”mortgage” berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis.

Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah.

Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah

itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh

menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.

 

Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet,

rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa

itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar

cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung

pergi dari rumah tersebut.

 

Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?

 

Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya

karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh

”para pelaku bisnis keuangan” sebagai peluang untuk membesarkan

perusahaan dan meningkatkan laba.

 

Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas

mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli

rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.

 

Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para

pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk

membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun

bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik.

Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung.

Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.

 

Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang

perbankan yang keras.

 

Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.

 

Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ”bank jenis lain” yang

disebut investment banking.

 

Apakah investment banking itu bank?

 

Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ”hanya mirip” bank. Ia lebih bebas

daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak

hal: menerima macam-macam ”deposito” dari para pemilik uang,

meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham,

menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan

apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang

tidak pernah memikirkan! Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi

adalah jenis investment banking itu.

 

Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi

pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan

dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam

kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment

banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang

dengan istilah ”personal banking”.

 

Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang

menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana,

saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya

tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.

 

Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu

saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung

angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia

tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

 

Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu

hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang

kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.

 

Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan

oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup

seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas.

Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau

turun.

 

Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah

lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa

dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan

penghematan pengeluaran.

 

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi,

pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari

mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita,

bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak

pernah dipikirkan jangka panjangnya.

 

Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang

dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang

disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak

orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti

nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu

berarti kian banyak yang gagal bayar.

 

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula

menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang

lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu

menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain

ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh

menimpa kartu lain. Roboh semua.

 

Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu?

Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5

triliun dolar. Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana

APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana

itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar

lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?

 

Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau

menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan

sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa

dan negara Indonesia dijadikan satu.

 

Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan

rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan

orang Indonesia yang ”menabung” -kan uangnya di lembaga-lembaga

investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.

 

Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya

tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada

Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.

 

Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi

salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia.

Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan

sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak

bisa dikirim secara besar-besaran ke sana. Kita, setidaknya, masih bisa

menanam jagung.(*)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.