oh-mae…..
they absolutely need a bigger house with those 8 children
gw selalu pengen punya banyak anak,
tp twin dan sextuplet pada saat yang bersamaan?
wow, kayanya cuma the-chosen-mom yang bakal dpt kesempatan kayak gt..
btw, i love the show
oh-mae…..
they absolutely need a bigger house with those 8 children
gw selalu pengen punya banyak anak,
tp twin dan sextuplet pada saat yang bersamaan?
wow, kayanya cuma the-chosen-mom yang bakal dpt kesempatan kayak gt..
btw, i love the show
August Rush review: start
The music is everywhere,
All you have to do is listen…
The movie is about an eleven years old young boy who lives in orphanage and always believe that his parent will come to pick him up someday, where all the people around told him it’s impossible.
Oh well, I’m not a good reviewer. I just wanna share the relation between the movie and me
or at least the lesson learned from this movie. Again, this is another movie which teaches you how to dream and not to give up on it.
Evan aka August loves music, it’s in his blood. He said that he needs music more than food. In my case, I think I should say ‘I need to make my own empire company than I need food’. hahaha.
August Rush review: end
Hmm, and why is that?
Why should I own a company? Is it for the money? No… I guess not. Im not the kind of money digger person.. Although it’s also nice to have a house with a big yard and a swimming pool on it (;-) I’m a permanent swimmer, fyi), and a waterfall in the back yard is also cool. Err, maybe yes, it’s for the money. Haha.
No no no, im kidding..
The first time I have the idea of being an entrepreneur is when I was in the 3rd grade in elementary school. My economic teacher share to the class about Robert T. Kiyosaki diagram (or something, I can’t clearly remember), and told us that being an employee will give us fragile comfortness. By the time you being hire by the company, you will feel save. But the fact, you are not. Yes, I know, in the real life it is not that simple. Being an entrepreneur is waaaaay more dangerous if we don’t know how to manage the money, if we don’t know how to manage the risk, if we don’t know how to sell the right product to the right person, etc. But I think it’s kinda fun, you know, create something from the embrio (idea), grow it up into a baby, and take care of it until it become mature. And at the end, the company will feed you back and take care of you… ooh, how sweet..
The chance is everywhere,
All I need to do is work on it
Selama perjalanan liburan kali ini, gue berusaha menganalisa dan menyimpulkan karakteristik keluarga gue dan keluarga besar gue dr nyokap (yang juga ikut pergi, dan emg sering jalan bareng). Berikut adalah hasil observasi selama perjalanan.
1. Kami sangat suka jalan-jalan/ berwisata
2. Sambil jalan2, kami suka hunting dan mencoba makanan yang menjadi ke-khas-an daerah tujuan (aka wisata kuliner) terutama yang pernah masuk tV, atau direkomendasikan orang. Walaupun suka makan, hanya sedikit dari kami yang berpotur tubuh gemuk. Hal ini dikarenakan oleh porsi makan kami yang sedikit, kecuali beberapa orang pria dewasa yang kurang bisa mengendalikan diri (contoh: bokap gw)
3. Kami sangat suka tertawa, bahkan seringkali menertawakan hal-hal yang tidak sepantasnya ditertawakan. Ga mau jelasin lebih detail aah, haha. Bukan sesuatu yg jahat kok, cuma agak….
4. Kami adalah tipe orang yang mudah gembira, walaupun terkadang beberapa diantara kami juga mudah terpancing emosinya.
5. Kami, baik laki-laki maupun perempuan, suka berbelanja.
6. Kami suka berfoto ria.
7. Beberapa dari kami suka menyanyi.
8. Kalo udah marah, kami bisa menghancurkan dunia.
9. Kami idealis.
10. Kami selalu suka segala sesuatunya teratur dan rapi.
begitulah..
Wonosobo, 5 okt 08
.amanda yang akhir2 ini suka merenung.

Provoke! edisi oktober 2008 (FYI, provoke! merupakan majalah gratisannya anak-anak muda di seputaran Jakarta, karena masih baru, jadi didistribusiinnya baru di Jakarta aja, dan beberapa SMA di Bogor. CMIIW. Dari mana gue bisa dapet majalah ini? Tentu saja dari si adek. Saya kan sudah tidak muda lagi.. hehe) temanya adalah ‘ignorance is bliss’. Maksudnya adalah terkadang ketidaktahuan/ ketidakperdulian lo merupakan berkah tersendiri yang bisa mendatangkan kebahagiaan/ kenyamanan tak terhingga
. Bukan berarti lo ngga perlu mikir atau mempertimbangkan segala sesuatu sebelum melakukan sesuatu, hanya saja, seperti dibilang di majalahnya, ignorance is bliss because if you don’t know something, it can’t hurt you. Ignorance is bliss, because it’s easier to support something blindly than exploring all the option. Ada juga yang bilang ignorance is bliss karena dengan ngga memperdulikan omongan orang, lo jadi lebih bisa menggali potensi diri lo lebih dalam karena ngga perlu musingan saran2 ngga keruan dari orang lain.
NAH, yang terakhir ini yang bikin gue pengen banget nulis postingan inih. To be honest, gue adalah tipe orang yang sangat suka meng-ignore hal-hal (yang menurut gue) ngga penting, yah, lumayanlah menghemat space tempat di kepala, hehe. Mungkin ini juga penyebab gue jadi sanguine sejati, karena gue bukan tipe pemikir. Malah suka rada geregetan kalo lagi bareng sama temen2 yang melankolis, yang apa2 dipikirin dulu detail2nya dampak jangka pendek jangka panjangnya, sampe buat ngambil keputusan aja lamaaa banget. Yak, kembali ke topik, pas baca artikel ini, gue jadi pengen banget nyeritain pengalaman pertama gue pake kerudung, betapa my ignorance become a HUGE bliss for me, :-p
Keinginan pake kerudung muncul pertama kali kelas satu SMA. Spontan aja gitu, ga ada angin, ga ada ujan tiba2 kepengen. Sebenernya sih gue tau kalo pake kerudung itu sebuah keharusan bagi perempuan muslim udah dari SMP, secara gue SMP di al azhar.. kebangetan lah kalo sampe ngga tau, hehe. Tapi waktu SMP masih ngga pengen, mungkin karena lingkungan yang membuat gue tidak terbiasa sama hal-hal itu. Walaupun tau itu wajib, tapi waktu itu gue mikirnya, ya, pakenya ntar2 aja kalo udah tua. Seperti kebanyakan orang yang ada di sekitar gue.
Kalo sekarang gue pikir2, kenapa ya dulu bisa segitu kepengennya pake kerudung. Motivasi awal sih kayanya faktor pergaulan, hehe. Jawaban paling simple adalah karena gue salah gaul
. Alhamdulillah-nya, gue gaul sama anak-anak ROHIS. Well, bukan anak ROHIS juga sih sebenernya, tapi *anak2 yang interest sama keROHISan. Jadilah gue ketularan suka juga.
Turunan dari faktor pertama adalah karena gue kepengen terlihat seperti senior2 gue di ROHIS (yg cwe loh ya). Ya, karena suka ikut2an agenda ROHIS, jadi suka ketemu dan sekaligus berkenalan sama para kakak kelas di ROHIS. Dimata gue saat itu, si kakak2 itu terlihat begitu dewasa dan berwibawa.. trus jadi kepengen kaya gitu juga deh.. salah satunya dengan pake kerudung.
Faktor kedua adalah karena dulu gue ngerasa kalo pake jilbab bisa jadi solusi buat permasalahan di kehidupan gue saat itu. Entah kenapa gue ngerasa kalo fakta bahwa ada aturan pake jilbab itu wajib buat muslimah bener2 PAS buat gue. Gue ngerasa peraturan itu dibikin buat gue. Pas banget sama kondisi gue. Bener2 ga ada alasan buat ngga make. Apalagi yang bikin aturan itu Tuhan yang nyiptain gue, pastinya ngga akan salah dong. Mungkin disinilah hidayah itu datang
So, bisa dilihatkan betapa dangkalnya (beberapa) motivasi gue buat pake kerudung
. Dengan motivasi gue yang ‘hanya’ seperti itu, ditambah ke-keraskepala-an, termasuk ignorance2 gue, ditambah pertolongan Allah juga pastinya, jadilah gue pake kerudung, sampai saat ini, Alhamdulillah.
Nah sekarang saatnya nyeritain ignorance2 gue. Jadi waktu keinginan itu datang, ada beberapa halangan dan rintangan yang menghadang, alhamdulillah dengan ini hidup gue jadi lebih seru
Dan disinilah ignorance gue mengambil peran. Keputusan buat pake kerudung datang sangat tiba2 sehingga gue ngga mikirin dampak dan konsekwensi yang mesti gue tanggung. Bukan, bukan ngga mau mikirin, tapi gue emang bener2 ngga sadar sama apa yang udah menghadang di depan gue ketika keputusan ini gue ambil. Pokoknya mau pake kerudung, titik! Apapun yang orang bilang gue ngga takut. Pokoknya mau pake.
Kamu kan masih kecil, nanti ajalah pakenya… (nyokap)
Pokoknya mau pake! (gue ngomong dalam hati)
Iman itu yang penting di hati, pake kerudung mah nggap penting… (tante)
Pokoknya mau pake! (gue ngomong dalam hati)
Isu-isu lain kaya: belum pantes pake jilbab karena belum cukup ilmu, takut dianggap sok shalih, susah dapet kerja, susah dapet jodoh, dsb, baru gue ketahui kemudian setelah kerudung menempel di kepala, hehehe. Tapi setelah tau-pun ya.. bodo amat.
Yang nyuruh gue pake kan Allah, yang begituan mah dipikirin ntar aja, insya Allah ini keputusan yang baik. Sempet shock juga sih pas tau keluarga ngga (langsung) mendukung, semua keluarga gue kalo ngga diem (ngga komentar) ya ngelarang. Dan karena jiwa muda gue juga mungkin, semakin dilarang gue malah merasa tertantang dan semakin kepengen,
Untungnya Amanda punya bapak yang bijak nan demokratis, syenang deeh, akhirnya bokap berkeputusan buat ngijinin dengan syarat gue ngga boleh setengah-setengah. Kalo mau pake ya pake terus, jangan lepas-pake-lepas-pake. Waktu bokap bilang, yah, ngga papa, daripada kamu narkoba (lho?) mending pake jilbab, kan positif..
Begitulah, Alhamdulillah setelah hampir 7 tahun pake kerudung amat sangat teramat banyak sekali nikmat yang gue dapet ‘hanya’ karena gue pake jilbab ini. Sangat banyak sampe gue ngga pengen cerita. Heheheh.
Oia, satu hal lagi yang ajaib adalah selama gue pake jilbab, gue bener2 ngga pernah kepikiran buat lepas loh. Padahal kalo denger cerita orang2, pasti ada saatnya yg pake jilbab pengen buka. Kenapa ya gue gitu… mungkin karena udah terlalu sibuk menghadapi konsekwensi yang gue ngga sempet pikirin sebelumnya.. =D
*Jadi dulu itu se-geng itu berlima (bisa jadi satu geng karena kami sama2 ikut ekskul taekwondo, dan seangkatan yg cewe ya cuma berlima ini, makanya jadi kompak): gue, indah, levi, tika, maryam. Yang pake kerudung cuma indah sama maryam. Pake kerudungnya juga biasa aja, ngga gombrong2 kaya kebanyakan temen2 gue sekarang, tapi semangat mereka itu loh, bikin gue jadi semangat juga
Dan diakhir pertemuan kami, which is cuma satu semester karena setelahnya gue pindah ke Ujung Pandang, lima-lima-nya udah pake kurudung. Mantab ga tuwh.
Di malam yang lapar ini, mari qt lanjutkan postingan sbelumnya.
Berdasarkan goal2 yg sudah gw jelaskan @ amanda di 50, maka sudah jelas kalo gw mw jadi pengusaha. Taapi, berhubung hidup di dunia cm sekali dan saat ini gw masih kecil, blm punya pengalaman, dan masih labil, gw berfikir untuk bekerja (jadi pekerja) dulu. Hidup di dunia yang cuma sementara ini membuat gw pengen nyobain smua hal, both being entrepreneur dan employee. *aargh, lapaar.. Maaf yg ini pure curhat* tapi biar waktu yang ada tdk terbuang dg percuma, tentu saja gw kudu kerja di tempat yang menunjang visi hidup gw. Dan dimanakah itu? Mari qt tanya pada rumput yg bergoyang..
Saat ini sih pengen magang di tempatnya si om. Jadi gw punya pengalaman kerja sekaligus bs blajar gmn cara jd pengusaha ya baik (fyi, om gw ini punya usaha dibidang bio energi -kayanya-, perusahaannya blm mateng -kayanya- jadi gw skalian bs bantu mematangkan) semoga boleh ya sama si om…
Disisi lain, gw jg agak pengen kerja di perusahaan marketing research. Karena sepertinya masih dikit perusahaan marketing research di indo. So, dg gw kerja di sana, sambil belajar jg, dgn harapan punya perusahaan reseach sendiri dimasa depan. AMIEN. Fyi, research it penting loh. Ga cm bwt jualan, bwt da’wah jg. Penting bwt lo tau dgn pasti karakter mad’u lo, apa maunya mrk, dsb. Jd nyentuhnya lbh gampang. Ma’rifatul maidan gt deh.. Tp dibikin research scr profesional dong biar hasilnya valid..
*udh mlm, mari bobo dlu*
bersyambungh…
Cinta…
Apa sih cinta itu..?
Atas nama cinta seorang ibu tega bunuh anak-anaknya,
Atas nama cinta seorang suami menyiramkan air keras ke wajah istrinya,
Banyak orang tega menyakiti orang lain demi mendapatkan yang dicintainya
Coba deh lo liat Lex Luthor, saking cintanya sama Lana, banyak orang udah dia bunuh.. emang sih cuma di film, tapi gue yakin, di dunia nyata juga banyak yang kaya gini.. :-p
Cinta itu egois kalo gue bilang..
Dan sebenernya ga terlalu penting juga buat diributin.
Satu-satunya cinta yang mesti lo perjuangkan adalah cinta sama Tuhan, ya, sama Allah.
Itu aja.
Ga usah deh lo mikirin gimana caranya biar si dia cinta sama elo.
Cinta sama manusia itu semu.
Curhat mode: ON
Manusia itu bisanya cuma nyakitin aja, haha..
Curhat mode: OFF
Tapi ketika dia cinta sama lo karena Allah, itu baru ngga semu. Karena ada tujuan yang lebih besar dari sekedar cinta manusia..
Ah, susah jelasinnya.. Mending ngomongin cinta sama Allah aja..
Benarkah kau cinta Allah?
Jika benar, tentu kau akan selalu menanti pertemuan denganNya
Kau akan khusyuk berkomunikasi denganNya
Kau ingin berlama-lama denganNya
Ketika berpisah hatimu terasa pedih
Benarkah kau cinta Allah?
Jika benar, tentu kau akan selalu ingat dengan Allah
Setiap surat dari Allah selalu kau baca dan kau ulang
Segala permintaan Allah kau kerjakan tanpa pertanyaan
Benarkah kau cinta Allah?
Jika benar, tentu kau bersedia berkorban untukNya
Harta, jiwa, dan ragamu kau serahkan padaNya
Kau berikan itu tanpa hitungan
Kau bersedia mati untukNya
Benarkah kau cinta Allah?
Ketika cinta sama Allah yang jadi topik,
cinta manusia bener-bener jadi ngga penting lagi kan?
Well, at least buat gue kaya gitu
After all, correct me if I’m wrong
mela chan: halo..
mand: holo holo
mand: gimana rapot nyaaa?????
mand:
mand: aku lagi di SBM nih
mand: jadi chat pake kompi
mela chan: aku msk ipa.. hehhe..
mand: ya iyyyaaa laaaahhh
mand: kamu gt
mand: masa IPS
mand: hehehe
mela chan: tp degdegan..
mela chan: sampe mules2
mand: hahaha
mand: tapi sekarang ga mules lagi doong
mand: brarti udah mulai liburan dong?
mand: ayo2 ksini
mand: bantuin aku nyebarin kuesioner
mand:
mand:
mand: ga ada kerjaan kan disana?
mand: nanti aku anterin jalan2 deeeh
mand: gimanaa???
mela chan: nyookk
mand: ayo2 ksini
mela chan: ayoayo
mand: beneran nih…
mand: naik travel aja
mand: nanti ku jemput
mela chan: tatuut
mand: ibu kan kerja, kmu pasti sendirian kan dirumaaaah
mand: yaelah,
mand: kan ke travelnya dianterin
mand: pas udh sampe juga dijempuut
mand: ngapain takuut
mela chan: yaah,, dipikir2 dl dech
mand: yaaaah
mela chan:
Ternyata selain berbakat jadi pengusaha, penulis, dan entertainer
ternyata gue juga berbakat jadi koki. Selain bisa masak nasi goreng sendiri, gue juga bisa bikin TUMIS BROKOLI. Emang sih baru bisa dua menu, tapi lumayan lah yaa~
Silahkan dilihat hasil cipta kreasi gue..
Tampak sangat lezat bukan? Haha, tentu saja.. gue gt yg bikiiin… Btw, ada yg tau ngga kenapa gue masak brokoli? Yup, benar sekali, karena brokoli adalah makanan favorit gue. Enak, menyehatkan, ga terlalu mahal (beli di carrefour hanya 5000 rupiah saja, bisa untuk dua porsi) dan masaknya gampang. Sempurna.
Berdasarkan sumber ini dan ini, brokoli bisa mencegah kanker dan stroke. Masih banyak manfaat lainnya sih, tapi gue ngga terlalu mikirin, yang penting enak.. haha
Ada satu teori lagi yang berhasil gue bikin
Teori tersebut adalah: Dalam hubungan manusia dengan manusia yang ada hanya prasangka. Pilihannya cuma dua: prasangka baik atau prasangka buruk [Dan hanya Allah-lah yang tidak pernah berprasangka, of course, karena Dia Maha Tahu]. So, dengan berlandaskan teori ini maka gue ngga merasa tersinggung ketika ada orang yang berprasangka tentang diri gue
Apapun yang orang pikir, mau itu baik atau buruk, gue ga terlalu peduli *sanguinis mode ON. Toh gue hidup cuma buat Allah. Mau orang mikir apa kek, ga ngaruh juga sama hidup gue… yayaya, Betapa (meminjam istilah seseorang) pragmatisnya gue.
Dengan tanpa mengurangi kadar ikhtiar untuk selalu memperbaiki diri, dalam keseharian gue berusaha menjadi diri gue apa adanya. Ngga di kampus, ngga di mesjid, ya begini ini adanya… Gue berusaha untuk ga munafik. Berusaha untuk menampakkan diri yang seperti ini sama dimanapun, kapanpun, kepada siapapun. Walaupun kadang2 kalo lagi khilaf keluar juga jaimnya, hehehehe..
Hm, kalo ngomongin tentang diri ini apa adanya, jadi pengen nulis tentang banyak hal..
Bersambung aja lah..
Sekarang gue lagi baca buku: Personality Plus, sebuah buku yg bikin gue jadi sering ngomong ‘ooo, pantes..’
Diawal babnya buku tersebut ngasih sebuah tes kecil-kecilan yang bakal nunjukin tipe orang kaya gimana sih elo. Dan hasil tes tersebut buat gue adalah: Pure Sanguine.
Well, sebenernya tes ini bukan yang pertama kali buat gue. Dulu, waktu pertama kali masuk SBM gue juga pernah dikasih tes ini dan hasil yang gue dapat adalah sanguinis-koleris. Artinyaaa, selama TIGA tahun di SBM gue udah mengalami pergeseran kepribadian dari sanguine-koleris menjadi PURE SANGUINE
What a wonderful world…
Em, kalo mau lebih teliti lagi, sebenernya sih masih ada sisa-sisa kejayaan koleris dihasil tes gue yang terakhir. Di result gue yang bagian strength, hasilnya itu 8 poin sanguinis, 6 poin koleris, 3 poin melankolis, dan 4 poin plegmatis. So, kalo dari sisi strength gue termasuk tipe sanguinis-koleris. But fortunately, dari sisi weakness result yg gue dapet adalah: 9 poin sanguinis, 4 poin koleris, 5 poin melankolis, dan 2 poin plegmatis. Maka klo ditotal2, gue mesti nerima kenyataan bahwa gue termasuk golongan makhluk pure sanguinis.
Menjadi seorang pure sanguinis dengan lebih banyak sisi kelemahannya means gue adalah orang yang: tidak ada tindak lanjut aka ga konkrit dan orang tanpa kesalahan aka ga pernah nyadar kalo lagi berbuat salah.
Well done! sangat cantik…
Untuk lebih detailnya, masalah pertama yang gue punya adalah orang sanguinis yang populer bicara terlalu banyak (Littauer, 1992). Maksudnya, kalo gue perlu ngomong A, maka yang keluar dari mulut gue adalah A+B+C+D+E+F+…+Z. Hh, begitulah… Sebenernya gue bukan tipe orang yang suka ngomong, tapi kalo diinget2 lagi, latar belakang gue ga suka ngomong adalah: kalo gue udah mulai ngomong biasanya ga kekontrol. hehe. Seperti yang gue pernah bilang di postingan sebelumnya, gue adalah tipe orang yang ngomong-dulu-baru-mikir
. Oia, tambahan lagi, salah satu sub-kekurang gue dari bab bicara terlalu banyak ini adalah ‘ternyata’ gue adalah tipe orang yang suka membesar-besarkan masalah, or membuat sesuatu yang sebenernya simple dan biasa aja jadi keliatan besar dan hebat. HAHAHA. kayanya klo yg itu udah tergambar jelas deh di tulisan2 di blog ini ^_^V.
Masalah yang kedua adalah: sanguinis yang populer mementingkan diri sendiri (Littauer, 1992).
duh, maaf ya teman2, it’s in the blood ternyata.. hehehehehe. kalo di bukunya sih dibilang, org sanguinis itu paling ga perasa sama org lain karena mereka begitu terpusat pada kepentingan diri sendiri. Mereka jarang memperhatikan keperluan orang lain karena mereka mempunyai sifat bawaan menghindari masalah atau situasi negatif. Sebenernya dibukunya juga dibilang sanguinis bukan pendengar yang baik, tapi ko yg ini kayanya ga berlaku bwt gue, gw cukup empatik kok orangnya, dan lumayan bisa jadi pendengar yg baik.. ya kan??
Next! masalah gue yg ketiga adalah: org sanguinins punya ingatan yang belum dikembangkan. (Littauer, 1992) So, misteri terbesar abad ini sudah terjawab. Selama ini gue selalu bertanya2, kenapa gue sangat kesusahan menghafal nama orang, menghafal nama tahun, dsb. Dan ternyata jawabannya masih berhubungan sm sifat buruk gw yg sebelumnya yaitu: karena gw ga peduli. Karena gue ga terlalu peduli, maka gue juga ga terlalu berusaha buat mengingat hal-hal itu. So, masalahnya bukan karena pada daya ingat gue yg kurang oke, tapi ternyata lebih karena sifat ga perasa gue tadi. Ada sedikit tambahan: sanguinis lebih tertarik pada orang dari pada statistic, serta kepada fiksi yang warna-warni daripada fakta yang apa adanya. Well, it explains everything..
And the last but not least, sanguine adalah orang yang tidak tertib dan tidak dewasa (Littauer, 1992). Dan gue cuma bisa bilang, ‘terimakasih atas pujiannyaaa…’ HAHAHA; see, ga mau ngaku salah bgt kan gue?
Sumpah ini bab yang paling nusuk. Soalnya ada tulisan ini: sementara orang sanguinis sering merupakan orang yang dianggap “mungkin sekali akan sukses”, mereka kerap kali tidak sukses. **sial** [liat aja nanti, bakal gue buktiin kalo gue juga bisa sukses!!] Mereka memiliki gagasan, kepribadian, kreatifitas, tetapi mereka jarang menyatukannya pada satu waktu tertentu. Well, seenggaknya gue udah punya modal
tinggal di organize aja kan? Hm, lgpl udah tiga taun gue kuliah di sekolah bisnis, masa menej diri sendiri ga bisa.. Hahaha~ *sombong*
Langkah kecil pertama gue untuk memperbaiki diri adalah dengan mulai fokus lagi ngerjain TA
. Setelah nulis tulisan ini -diwaktu yg mestinya gue fokus sama TA- yang panjangnya hampir dua halaman, gue baru sadar klo progress TA gw sejak bimbingan yg terakhir adalah NOL. Maka, mari kawan kita kembali ke jalan yang benar… Hamasah!!
Nb: sebenernya masih ada beberapa hal lagi, tapi ngga gue tulis karena gue ga ngeliat hal2 tsb di diri gue
. klo mau lebih jelas, baca aja sendiri bukunya. bagus kok. lagi pula gue kan cuma ngebahas sanguinis aja disini. hahaha~ **hanya peduli diri sendiri mode on**
SANGUINE ROCKS!