Israel, Palestina dan Bom Nuklir dari Persia

Dukung Misi Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) ke Palestina
bantuan untuk rakyat Palestina dapat disalurkan lewat :

BCA: No. Rek. 686.0153678 (a.n. Medical Emergency Rescue Committee)
BMI: No. Rek. 301.00521.15 (a.n. MER-C)
BSM: No. Rek. 009.0121.773 (a.n. Medical Emergency Rescue Committee)

InsyaAllah sedikit uluran tangan kita dapat membantu saudara-saudara kita di palestina

ato mau cara gampang??
cukup ketik : MERC PEDULI kirim ke 7505, dengan hal tsb anda telah menyumbang Rp 5000/sms

****************

Oleh iskandarjet – 2 Januari 2009

Untuk kesekian kalinya, warga dunia dihadapkan pada satu fakta menyakitkan dari Timur Tengah. Bom demi bom diluncurkan ke daratan berpenghuni ribuan manusia. Bangunan luluh-lantak, sebuah kota porak-poranda. Sedikitnya 400 nyawa melayang sia-sia. Ya, sebuah penyerbuan militer oleh satu negara terhadap negara lain kembali terjadi.

Tidak ada perang di kawasan ini, dan memang tidak pernah ada perang di sana. Yang terjadi antara Israel dan Palestina di penghujung 2008 adalah pembunuhan yang dibalas dengan pembunuhan. Israel dengan kekuatan militer penuh kembali membombardir permukiman di Jalur Gaza. Sementara Hamas sebagai penguasa Jalur Gaza membalasnya dengan meluncurkan roket-roket, juga ke permukiman di selatan Israel.

Warga tidak hanya menderita berkepanjangan, tapi seolah menanti giliran menuju kematian. Seandainya ini adalah perang, maka kedua belah pihak akan saling berhadapan di medan perang, saling menembak dan memborbardir pasukan lawan hingga akhirnya hanya ada satu pasukan yang menjadi pemenang.

Tapi, sekali lagi, ini bukanlah perang yang pernah kita bayangkan. Ini adalah sebuah pembantaian yang berlangsung dengan kelicikan dan kepengecutan. Alih-alih mengundang Hamas ke medan perang, Israel dengan restu bulat dari parlemen dan anggukan kepala pemerintah Amerika Serikat justru memilih menghantam semua yang dianggap sebagai Hamas: Tempat tinggal para pemimpin dan bala tentaranya, tetangganya, tempat ibadahnya, instalasi listriknya, terowongan darurat yang dibangun untuk menghidupi bangsanya dan semua yang hidup dan tinggal di wilayah kekuasaannya.

Amerika Serikat pun dengan enteng mencap Hamas sebagai teroris, sebuah cap yang tidak akan pernah didengar lagi oleh dunia setelah semua kebohongan Bush di Irak terbongkar dan berujung dengan pelemparan sepatu ke wajahnya.

Dalam kacamata AS, penyerbuan terhadap wilayah Gaza tidak lain merupakan balasan atas serangan roket dari Gaza ke wilayah Israel—satu-satunya dalih Israel yang dijadikan pembenaran atas apapun kehancuran yang terjadi di bumi Palestina. Tapi yang tidak diungkapkan secara gamblang oleh AS dan jaringan media internasional yang mereka kuasai adalah mengapa roket itu meluncur ke Gaza? Sangat sulit mendapatkan jawaban yang obyektif atas pertanyaan ini, baik di media cetakmaupun elektronik.

Dan dengan asumsi ini bukan perang, tidak ada satu negara pun yang berani melibatkan diri dalam konflik mematikan ini. Jangan pernah bermimpi penyerbuan Israel ke Jalur Gaza ini akan menjadi awal dari pecahnya perang dunia ketiga. Karena tidak akan ada satu negara pun yang berani mengirimkan pasukan perang untuk Palestina. Tidak negara-negara Arab apalagi non-arab, tidak juga negara berpenduduk muslim terbesar di dunia bernama Indonesia.

Begitu mendengar kabar penyerbuan ini, Indonesia (juga negara-negara lain) lebih memilih bergegas mengirimkan bantuan kemanusiaan, bukan bantuan militer. Yang bersemangat mengirimkan bantuan militer malah organisasi-organisasi Islam yang merasa terpanggil karena paham betul dengan bentuk pemusnahan bangsa secara sistimatik dan terencana yang sedang dilancarkan Israel.

Bantuan obat-obatan dan kemanusiaan memang perlu. Tapi ini bukan musibah yang disebabkan oleh alam. Ini adalah kehancuran yang disebabkan oleh kebengisan manusia yang menargetkan sebanyak mungkin manusia untuk dibunuh. Bila si penyebar teror dan kematian ini tidak dihentikan, maka musibah yang ingin diatasi oleh Indonesia negara-negara lainnya ini tidak akan pernah reda. Apalagi Deplu dan semua masyarakat dunia paham, Palestina adalah satu bangsa yang daratannya dikepung oleh bangsa lain. Negeri ini tinggal dalam sebuah penjara besar bernama Israel.

Yah, siapapun yang menyimak berita perseteruan dan perebutan wilayah antara Palestina dan Israel pasti sudah ‘jenuh’ –sama halnya dengan kejenuhan terhadap aksi bom bunuh diri yang selalu terjadi di Irak paska invasi biadab Amerika. Sudah tidak ada lagi air mata untuk dikucurkan. Yang tertanam hanyalah sikap pasrah, panjatan doa atau kesumat bagi yang lainnya. Setiap bulan, setiap tahun, berita tersebut selalu berulang. Roket-roket menghantam rumah demi rumah dan menghilangkan beribu nyawa. Senapan versus ketapel anak-anak belia, tank yang merangsek ke jalan-jalan raya, dan diplomasi perdamaian yang memuakkan dan tidak pernah ada hasilnya.

Setiap konflik dan masalah pasti ada solusinya. Tapi untuk kasus Palestina versus Israel, solusi itu seakan sengaja dihapus untuk mengekalkan sebuah pertikaian dan pembantaian. Apapun yang diupayakan, pasti tidak ada hasilnya. Siapapun yang bersikap, juga tidak membuat negeri Palestina damai dan merdeka.

Jangan berharap banyak terhadap PBB. Meskipun Indonesia sekarang menjadi salah satu anggota Dewan Keamanan PBB, keputusan akhir tetap ada di tangan Amerika yang siap menggunakan hak vetonya. Kendati pun PBB berhasil mengeluarkan sebuah resolusi untuk menghukum Israel, hukuman itu akan selalu jadi ‘macan ompong’ yang dianggap angin lalu oleh Israel.

Barack Obama sang presiden AS kebanggaan dunia juga tidak akan membuat keputusan yang lebih berarti bagi perdamaian di Palestina. Pasalnya, presiden berayah muslim dan pernah bersekolah SD di Indonesia ini dalam kampanyenya dulu berjanji akan mendukung Israel dan memilih menekan negara lain yang dianggap mengancam keamanan penduduk Yahudi Israel.

Di tengah keputusasaan ini, saya teringat dengan seorang presiden yang kharismatik dan hidup dalam kesederhanaan, yang secara terang-terangan bertekad menghapus Israel dari peta dunia—sebuah tekad yang membuat bulu kuduk merinding. Andai negeri Persia ini sudah punya senjata nuklir seperti yang dikhawatirkan oleh Amerika dan Israel, pasti sebuah bom nuklir sedang akan meluncur menghantam negeri buatan ini.

sumber:

http://iskandarjet.kompasiana.com/2009/01/02/israel-palestina-dan-bom-nuklir-dari-persia/

sukaa :p

the adams — halo beni

feist on sesame street

Posted in Present. Tags: . 2 Comments »

1st baby step

My 1st baby step. Itu istilah yg gw anggap paling pas bwt ngegambarin kondisi gw saat ini. Awalnya sempet agak ragu pas nerima job yg sekarang. Antara takut ga bisa, sama pengen sesuatu yg lebih aja..
Takut ga bisa, karena perusahaannya masih baru bgt, jadi pastinya byk yg mesti dikerjain PLUS sistem kerja yg belum jelas.
Tapi gw pikir2, kayanya (company) yg kaya gini yg paling cocok bwt gw belajar, kalo gw mw jd pengusaha.
Punya perusahaan itu emang kompleks bgt. Banyak bgt yg mesti dipikirin. Mulai dr inti bisnisnya (gimana caranya biar sales tinggi), sampe gimana cara biar para pegawai betah kerja di perusahaan kita. Apapun yang mesti diurus, si CEO mesti punya jiwa leadership yg bagus sehingga temen2nya bisa nurut tanpa merasa terintimidasi :-)
daan, perusahaan juga kudu punya tim (managemen) inti yang solid. Kayanya yang terakhir ini yang rada ribet. Apalagi kalo bikin usaha bareng2 anak itb. Hahaha. Katanya sih, *gosip kantor* anak itb itu susah diatur, ego nya tinggi, ngga loyal, dsb..
Entahlah, tergantung orangnya jg kali yee..

Posted in Present. Tags: . 5 Comments »
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.