lagi males nulis.. jadi copas aja ya.. hehe
***
Oleh budi11 – 5 Januari 2009
Dalam buku ” Kekuatan Daya Saing Indonesia” karya Prof. Zuhal, ada sebuah bab yang menarik dan ketika saya membacanya seperti berada di sebuah “taman bunga” dengan warna-warni berbeda tetapi serasi, berpadu dan menimbulkan keharmonisan.
Bab ini bertajuk “Pertemuan Sains dan Agama”. Penulis mengupas dengan apik bahwasanya ilmu pengetahuan dan agama adalah suatu kesatuan dan bukan untuk dipisahkan. Ilmu pengetahuan sebenarnya digunakan sebagai alat untuk mengungkap kata-kata kunci yang terdapat dalam Al Qur an, dan yang Alloh swt sembunyikan di alam semesta agar manusia, sebagai khalifah di muka bumi mengeksplorasinya.
Penulis mencoba mengajak pembaca mencermati beberapa pandangan semisal dari penganut teori evolusi Darwin, penganut Intelligence Design(ID) lalu teori kuantum. Penganut Darwinisme menganggap bahwa segala organisme hidup dapat menjadi lebih sempurna secara bertahap dan melalui evolusi yang panjang. Sementara penganut ID menganggap bahwa segala organisme hidup merupakan blue print dari suatu desain yang Maha Sempurna sehingga tidak mungkin melalui cara evolusi.
Saya jadi ingat satu episode film kartun Simpsons dimana kala itu Lisa memberontak di sekolah karena Ned Flanders dan pihak gereja mendesak agar ajaran teori Darwin tidak lagi diajarkan di sekolah. Lisa dalam kartun ini ditokohkan sebagai seorang anak yang berpikiran secara ilmiah yang ekstrim. Ia menolak ajaran dalam Bibel(injil) bahwa manusia adalah keturunan dari Adam dan Hawa dan bukan dari proses evolusi dari kera. Dan jika anda sempat simak episode ini akhirnya Ned dan pihak gereja kalah di pengadilan karena Homer dipancing istrinya bertindak semacam kera sehingga seakan-akan menunjukkan bahwa memang benar teori Darwin itu. Suatu pendapat ilmiah yang dipaksakan sekali.
Sebenarnya Darwin, dalam kekhilafannya ada mengakui keberadaan Alloh sebagaimana katanya : “There is grandeur in this view of life, with its several powers, having been originally breathed by Creator into a few form or into one; and that whilst this planet has gone cycling on according to the fixed law of gravity, from so simple a beginning endless forms most beautiful and most wonderful have been, and are being, envolved”(On the Origin of Species, Darwin).
Dalam teori Quantum lagi-lagi para ilmuwan menemukan fenomena akan adanya batas ilmu yang mereka miliki. Ada suatu limit dan ada suatu daerah di mana akal manusia tidak mampu mencapainya dan menterjemahkannya secara ilmiah. Menurut Werner Heisenberg, seorang pengungkap teori kuantum (1972) mengatakan bahwa ketelitian setiap pengukuran besaran-besaran dinamis secara hakiki mengandung ketidakpastian, kita tidak dapat memperoleh hasil pengukuran, hanya memperoleh gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan. menurutnya setiap usaha kita mencatat posisi dan momentum suatu partikel secara pasti akan merupakan usaha sia-sia. Karena mungkin kita di suatu waktu dapat merekam posisi partikel itu tapi kehilangan pengukuran momentum pada waktu yang bersamaan. Padahal momentum dan posisi merupakan besaran fisis yang diperlukan dalam mengetahui fenomena alam(Prof. Zuhal, Kekuatan Daya Saing Indonesia, hal. 163).
Jadi kalau diistilahkan dalam matematika ilmu yang dimiliki manusia dan pengembangannya melalui usaha dan pemikiran hanya mencapai posisi limit terbatas. Sementara ilmu yang Alloh miliki itu berada hingga limit tak hingga. Sebagaimana Rasululloh saw kiaskan bahwa ilmu manusia itu hanya seujung kuku dari ilmu Alloh swt.
Maka ketika ada usaha manusia memisahkan antara agama dengan science maka ada suatu ketidak harmonisan didalamnya. Tanpa ada sentuhan agama, kebenaran hakiki dalam agama, para ilmuwan kehilangan ruh-ruh penyeimbang manakala mereka temui jalan buntu untuk mengungkap apa dibalik fenomena alam. Fenomena yang Alloh swt sediakan kepada manusia untuk dieksplorasi dan dengannya tunduk mengakui kebesaran dan keluasan ilmu yang dimiliki Alloh swt.
sumber